susirahayu99.blogspot.com ~ PJJ Kelas 5 Hari Senin Tanggal 21 September 2026
1. IPAS.
PIRAMIDA MAKANAN
A. Materi Pembelajaran
1. Pengertian Piramida Makanan
Piramida
makanan (piramida ekologi) adalah gambaran berbentuk piramida yang menunjukkan
hubungan makan dan dimakan antarmakhluk hidup dalam suatu ekosistem, disusun
berdasarkan tingkatan trofik (tingkat makan). Berbeda dengan jaring-jaring
makanan yang hanya menunjukkan arah "siapa memakan siapa", piramida
makanan juga menunjukkan jumlah energi, jumlah individu, dan biomassa
pada tiap tingkatan.
2. Tingkatan dalam Piramida Makanan
Berdasarkan
gambar, piramida makanan terdiri atas empat tingkatan:
|
Tingkatan |
Peran |
Contoh
dari gambar |
Jenis
makanan |
|
Dasar |
Produsen |
Rumput, bunga, tumbuhan berbuah |
Membuat makanan sendiri (fotosintesis) |
|
Ke-2 |
Konsumen tingkat 1 |
Belalang, kupu-kupu, kelinci, kambing |
Herbivora (pemakan tumbuhan) |
|
Ke-3 |
Konsumen tingkat 2 |
Ular, burung kecil, musang, laba-laba |
Karnivora/omnivora kecil (pemakan konsumen 1) |
|
Puncak |
Konsumen tingkat 3 |
Elang |
Karnivora puncak (pemakan konsumen 2) |
a. Produsen
Makhluk hidup
yang mampu membuat makanan sendiri melalui fotosintesis dengan bantuan cahaya
matahari, air, dan karbon dioksida. Produsen menjadi sumber energi awal bagi
seluruh tingkatan di atasnya.
b. Konsumen
Makhluk hidup
yang tidak dapat membuat makanan sendiri sehingga bergantung pada makhluk hidup
lain.
•
Konsumen tingkat 1 (herbivora): pemakan
tumbuhan.
•
Konsumen tingkat 2 (karnivora/omnivora): pemakan
konsumen tingkat 1.
•
Konsumen tingkat 3 (karnivora puncak): pemakan
konsumen tingkat 2; biasanya tidak memiliki pemangsa alami.
c. Pengurai (Dekomposer)
Meskipun tidak
digambar pada piramida, pengurai seperti jamur dan bakteri sangat penting.
Mereka menguraikan tubuh makhluk hidup yang mati menjadi zat hara yang
dikembalikan ke tanah dan dimanfaatkan kembali oleh produsen.
3. Aliran dan Transfer Energi
Energi berasal
dari matahari, ditangkap oleh produsen, lalu berpindah ke konsumen
melalui proses makan dan dimakan.
Aturan 10%
(Hukum Lindeman). Hanya sekitar 10% energi yang berpindah ke tingkatan
berikutnya. Sisanya (sekitar 90%) digunakan untuk aktivitas hidup (bergerak,
bernapas, tumbuh), dilepaskan sebagai panas, dan sebagian tidak tercerna atau
terbuang.
Contoh
perhitungan:
|
Tingkatan |
Energi
tersedia |
|
Produsen (rumput) |
10.000 kkal |
|
Konsumen 1 (belalang) |
1.000 kkal |
|
Konsumen 2 (katak) |
100 kkal |
|
Konsumen 3 (elang) |
10 kkal |
4. Hubungan Tingkatan dengan Jumlah dan Ukuran
•
Semakin rendah tingkatan: jumlah individu
semakin banyak, energi tersedia semakin besar, ukuran tubuh umumnya lebih
kecil.
•
Semakin tinggi tingkatan: jumlah individu
semakin sedikit, energi tersedia semakin kecil, ukuran tubuh umumnya lebih
besar.
Karena itulah
bentuknya berupa piramida: bagian dasar lebar, bagian puncak sempit. Ini juga
menjelaskan mengapa satu ekor elang membutuhkan wilayah luas dan banyak mangsa
untuk bertahan hidup.
5. Jenis-Jenis Piramida Ekologi
1.
Piramida energi: menunjukkan jumlah energi pada
tiap tingkatan. Selalu berbentuk piramida tegak.
2.
Piramida jumlah: menunjukkan banyaknya individu
pada tiap tingkatan.
3.
Piramida biomassa: menunjukkan total massa
makhluk hidup pada tiap tingkatan.
6. Perbedaan Rantai Makanan, Jaring-Jaring Makanan, dan Piramida Makanan
|
Aspek |
Rantai
makanan |
Jaring-jaring
makanan |
Piramida
makanan |
|
Bentuk |
Satu jalur lurus |
Banyak rantai saling terhubung |
Tingkatan bertumpuk |
|
Informasi |
Urutan makan-dimakan |
Hubungan makan-dimakan yang kompleks |
Tingkat trofik, energi, jumlah |
|
Contoh |
Padi → tikus → ular → elang |
Gabungan beberapa rantai |
Produsen → K1 → K2 → K3 |
7. Dampak Gangguan pada Piramida Makanan
•
Perburuan predator puncak (elang, ular) membuat
populasi hewan di bawahnya meledak, misalnya tikus, sehingga tanaman pertanian
rusak.
•
Alih fungsi lahan/penebangan hutan mengurangi
produsen sehingga seluruh tingkatan di atasnya terancam.
•
Pencemaran dan pestisida dapat menumpuk pada
tubuh makhluk hidup sepanjang rantai makanan (biomagnifikasi) dan paling
berbahaya bagi konsumen puncak.
8. Upaya Menjaga Keseimbangan
•
Tidak berburu satwa liar secara berlebihan
•
Melestarikan hutan dan habitat alami
•
Mengurangi penggunaan pestisida kimia
•
Menanam pohon dan menjaga kebersihan lingkungan
Rangkuman
1. Piramida makanan menggambarkan hubungan makan-dimakan
sekaligus jumlah energi.
2.
Urutannya: produsen → konsumen 1 → konsumen 2 →
konsumen 3.
3.
Hanya sekitar 10% energi berpindah ke tingkat
berikutnya.
4.
Semakin tinggi tingkatan, semakin sedikit jumlah
individu dan energi.
5.
Keseimbangan piramida harus dijaga agar ekosistem tetap
lestari.
Untuk mengerjakan latihan IPAS silahkan klik DISINI
2. SENI BUDAYA
Bacalah dengan artikel di bawah ini
b. Postur tubuh saat bernyanyi
Postur berdiri kita adalah tegak dengan membagi beban pada kedua kaki dan membuatnya seimbang. Hal ini membuat tubuh menjadi rileks. Selain itu, postur tubuh bisa juga turut bergerak mengikuti irama lagu yang dinyanyikan.
c. Teknik pernapasan
Dalam bernyanyi, ketika bernapas, daerah sekitar perut dikembangkan. Ketika mengembuskan napas, bagian sekitar perut dikempiskan. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melatih pernapasan antara lain:
1) posisi atau postur tubuh yang baik dan benar tetap dijaga;
2) saat mengambil napas, jangan berbunyi atau terdengar;
3) saat mengambil napas, tulang rusuk bagian bawah dikembangkan;
4) saat mengembuskan napas, posisi dada harus dijaga.
d. Kemampuan artikulasi yang baik
Artikulasi adalah pengucapan kata atau lirik saat bernyanyi. Cara berlatih artikulasi dengan meningkatkan kelancaran pengucapan vokal, yaitu A, I, U, E, dan O. Perhatikan gambar berikut.
Gambar. Bentuk mulut saat mengucapkan vokal A, I, U, E, dan O
e. Menguasai intonasi
Intonasi merupakan “pembidik nada” sehingga mampu menyanyikan nada dengan tepat. Agar suara tidak sumbang, seorang penyanyi harus menguasai intonasi.
f. Teknik vibrasi
Dalam teknik vokal, vibrasi adalah bentuk suara yang bergetar dan bergelombang. Tujuan dari berlatih vibrasi adalah mampu berekspresi ketika bernyanyi. Vibrasi yang benar akan menghasilkan suara yang merdu dan indah.
Kamu telah mempelajari jenis suara manusia, jenis dan cara memainkan alat musik, serta cara bernyanyi yang baik dan benar. Sekarang, kita coba ingat kembali pelajaran kelas 4, yaitu beberapa jenis lagu, seperti lagu populer, lagu anak, lagu wajib nasional, dan lagu daerah.
Lagu populer adalah lagu yang sedang disenangi oleh masyarakat saat ini. Lagu ini biasanya menjadi tren atau sering diputar di radio atau televisi. Selain itu, ada lagu anak. Lagu anak sengaja dibuat, baik lirik maupun melodinya, sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. Lagu anak biasanya bersifat riang dan ceria.
Lagu wajib nasional adalah lagu yang diciptakan dengan tujuan mengobarkan nasionalisme, semangat juang, dan kecintaan pada tanah air. Lagu nasional juga diciptakan untuk menghormati dan mengapresiasi perjuangan pahlawan yang sudah berjuang demi Tanah Air.
Lagu daerah adalah lagu yang lahir dan berkembang dari kebudayaan daerah setempat. Lagu daerah umumnya menggunakan bahasa daerah. Lagu daerah biasanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. Contoh lagu daerah yang ada di Indonesia antara lain “Ampar-Ampar Pisang”, “Panon Hideung”, dan “Soleram”.
Untuk mengerjakan latihan Seni Budaya silahkan klik DISINI
3. MULOK
Bacalah artikel di bawah ini
1. Asal-usul Kecamatan Tungkal Jaya
Kecamatan Tungkal Jaya merupakan pemekaran dari
Kecamatan Bayung Lencir. Nama Kecamatan Tungkal Jaya berasal dari Marga Tungkal
Ulu. Dahulu, desa disebut marga. Marga dipimpin oleh pasirah.
Awalnya, ada empat desa yang diakui di Marga Tungkal Ulu, yaitu sebagai
berikut.
1.
Marga Peninggalan
2.
Marga Sukadamai
3.
Marga Pangkalan Tungkal
4.
Marga Simpang Tungkal
Tugu Muba Maju Berjaya di Kecamatan Tungkal Jaya.
Nama Tungkal Jaya kemudian dipilih oleh masyarakat.
Dahulu, terdapat Sungai Tungkal yang melalui desa-desa di Kecamatan Tungkal
Jaya. Oleh karena itu, pada saat pemekaran, kecamatan ini diberi nama Tungkal
Jaya.
2. Ketampakan Alam Kecamatan Tungkal
Jaya
Kecamatan Tungkal Jaya memiliki luas wilayah 821,19 km2.
Kecamatan ini terdiri atas 16 desa. Desa terluas adalah Desa Suka Damai dengan
luas wilayah sebesar 125 km2 dan desa terkecil adalah Desa Sido
Mulya dengan luas wilayah 12 km2. Kecamatan Tungkal Jaya merupakan
dataran rendah dengan rata-rata ketinggian adalah 50,38 mdpl (meter di atas
permukaan laut). Batas-batas wilayah Kecamatan Tungkal Jaya adalah sebagai
berikut.
•
Sebelah utara: Kecamatan Bayung Lencir.
•
Sebelah selatan: Kecamatan Sungai Lilin dan Kecamatan
Keluang.
•
Sebelah timur: Kecamatan Lalan dan Kabupaten Banyuasin.
•
Sebelah barat: Kecamatan Batanghari Leko.
Posting Komentar